Melihat Pemberdayaan dan Kesejateraan Keluarga (PKK)..

img-20161109-wa0018
Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) sebagai gerakan pembangunan masyarakat bermula dari Seminar “Home Economic” di Bogor pada tahun 1957 dengan menghasilkan rumusan 10 Segi Kehidupan Keluarga, yang ditetapkan sebagai kurikulum Pendidikan KEsejahteraan Keluarga, dan diajarkan di sekolah-sekolah oleh Pendidikan Masyarakat.

Tahun 1967 Pendidikan Kesejahteraan Keluarga dilaksanakan secara intensif di Jawa Tengah, dalam upaya menanggulangi keterbelakangan dan kemiskinan masyarakat dengan jalan meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya.

Gerakan PKK di masyarakat berawal dari kepedulian Isteri Gubernur Jawa Tengah pada tahun 1967 (Ibu ISRIATI MOENADI) setelah melihat keadaan masyarakat yang menderita busung lapar. Pada awalnya program PKK adalah 10 segi pokok PKK. Dari keberhasilan Jawa Tengah, maka Presiden RI menganjurkan kepada Menteri Dalam Negeri agar PKK dilaksanakan di daerah-daerah di seluruh Indonesia dengan nama “Pembinaan Kesejahteraan Keluarga”

img-20161109-wa0019Upaya untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga melalui 10 Segi Pokok Keluarga dengan membentuk Tim Penggerak PKK di semua tingkatan, yang keanggotaan timnya secara relawan dan terdiri dari tokoh/pemuka masyarakat, para Isteri Kepala Dinas/Jawatan dan Isteri Kepala Daerah sampai dengan tingkat Desa dan Kelurahan yang kegiatannya didukung dengan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah.

Gerakan PKK bertujuan memberdayakan keluarga untuk meningkatkan kesejahteraan menuju terwujudnya keluarga yang beriman dan bertaqwa kepada tuhan yang maha esa, berakhlak mulia dan berbudi luhur, sehat sejahtera, maju dan mandiri, kesetaraan dan keadilan gender serta kesadaran hukum dan lingkungan.

Tim Penggerak PKK berada di tingkat pusat sampai dengan desa/kelurahan, PKK dikelola dan digerakkan oleh Tim Penggerak PKK yang diketuai oleh isteri Pimpinan Daerah (Gubernur, Bupati/Walikota, Camat, Kepala Desa/Lurah), secara fungsional. Dapat dikemukakan bahwa kunci berkembangnya program dan kegiatan PKK, justru ada peran nyata diwujudkan oleh istri Pimpinan Daerah.

Kepengurusan PKK Kelurahan Jati Kecamatan Mayangan Kota Probolinggo berubah seiring dengan pergantian atau mutasi Lurah, dalam hal ini yang sebelumnya lurah lama Sutarji diganti oleh Lurah Nurhadi, S.Pt yang secara otomatis ketua tim pengerak PKK ikut berganti pula. Dalam kegiatan ini pula Rabu (5/10) diadakan pembinaan dan pisah kenal Lurah lama dan lurah baru dan juga ibu ketua Tim Penggerak PKK. Dalam sambutannya Lurah Nurhadi, S.Pt menyampaikan kedepan strategi PKK Kelurahan Jati Kecamatan Mayangan Kota Probolinggo dalam upaya menjangkau sebanyak mungkin keluarga, mengoptimalkan “Kelompok Dasawisma”, yaitu kelompok 10 – 20 KK yang berdekatan. Ketua Kelompok Dasawisma dipilih dari dan oleh anggota kelompok. Ketua Kelompok Dasawisma membina 10 rumah dan mempunyai tugas menyuluh, menggerakkan dan mencatat kondisi keluarga yang ada dalam kelompoknya, seperti adanya ibu hamil, ibu menyusui, balita, orang sakit, orang yang buta huruf dan sebagainya. Informasi dari semuanya ini harus disampaikan kepada kelompok PKK setingkat diatasnya, yang akhirnya sampai di Tim Penggerak PKK Desa/Kelurahan.

img-20161109-wa0017Tambah ibu ketua Tim Penggerak PKK Kelurahan Jati yang baru, bahwa Tim Penggerak PKK berperan sebagai motivator, fasilitator, perencana, pelaksana, pengendali dan penggerak. Pembinaan tehnis kepada keluarga dan masyarakat dilaksanakan dalam kerjasama dengan unsur dinas instansi pemerintah terkait.