Peran Tenaga Kesehatan Terampil Sebagai Salah Satu Penolong..

DSC_1255

Kegiatan Sosialisasi Angka Kematian Ibu Kecamatan Mayangan Kota Probolinggo yang di gelar oleh Kecamatan Mayangan Kota Probolinggo di Aula Kelurahan Jati Kecamatan Mayangan Kota Probolinggo pada tanggal 19 April 2016. Acara sosialisasi di pimpin langsung oleh Camat Mayangan Kota Probolinggo dalam hal ini diwakili oleh Sekretaris Camat dan  Narasumber  dari Dinas Kesehatan Kota Probolinggo serta dihadiri oleh Kader Posyandu se  Kecamatan Mayangan Kota Probolinggo.

Kematian ibu atau kematian maternal adalah kematian seorang ibu sewaktu hamil atau dalam 42 hari sesudah berakhirnya kehamilan, tidak tergantung pada tempat atau usia kehamilan. Indikator yang umum digunakan dalam kematian ibu adalah Angka Kematian Ibu (Maternal Mortality Ratio) yaitu jumlah kematian ibu dalam 100.000 kelahiran hidup. AngkaDSC_1244 ini mencerminkan obstetrik yang dihadapi oleh seorang ibu sewaktu hamil. Sebagai pembilang tidak tergantung dari lamanya kehamilan, tetapi termasuk kematian ibu karena kecelakaan dan sebab lainnya yang tidak berkaitan dengan kehamilan atau persalinan. Bila pengamatan masa nifas dirasakan terlalu lama, dapat digunakan pengamatan 7 hari atau 42 jam setelah berakhirnya kehamilan. Kesulitan dalam perhitungan MMR adalah memperoleh data tentang ibu hamil dan kematian ibu yang jarang dilaporkan. Pengumpulan data dapat dilakukan dengan survey khusus terhadap ibu – ibu pasangan usia subur yang diikuti prospektif untuk menemukan kehamilan sampai persalinan dan masa nifas, tetapi cara ini membutuhkan tenaga, waktu dan biaya yang sangat besar. Untuk menjamin ketetapan hasil pengamatan dibutuhkan minimal 50 kematian ibu dank arena kematian ibu cukup kecil maka dibutuhkan sampel yang sangat besar.

 

Penyebab Utama Kematian Ibu di Indonesia     

Penyebab kematian ibu sejak dahulu tidak banyak berubah, yaitu perdarahan, eklampsia, komplikasi aborsi, partus macet, dan sepsis. Perdarahan yang bertanggung jawab atas sekitar 28% kematian ibu, sering tidak dapat diperkirakan dan terjadi tiba-tiba. Eklampsia merupakan penyebab nomor 2, yaitu sebanyak 13% kematian ibu. Aborsi tidak aman merupakan penyebab dari 11% kematian ibu. Penyebab kematian ibu lainnya adalah sepsis, kontributor 10% kematian ibu di Indonesia. Resiko kematian ibu dapat ditambah dengan adanya anemia, penyakit infeksi seperti malaria, TBC, hepatitis atau HIV/AIDS.

Disamping perbagai penyebab yang diuraikan di atas, Indonesia masih menghadapi berbagai masalah yang secara langsung ataupun tidak langsung berperan mempersulit upaya penurunan AKI, seperti masalah pertumbuhan penduduk, transisi demografi, desentralisasi, utilisasi fasilitas kesehatan, pendanaan dan kurangnya koordinasi instansi terkait baik di dalam negeri maupun bantuan dari luar negeri.

Pola kematian ibu menunjukkan perlunya pelayanan emergensi obstetric dan neonatal dan tersedianya tenaga kesehatan terampil sebagai penolong persalinan.

Pelayanan oleh tanaga kesehatan terampil :DSC_1247

Reorientasi Kategori Pelayanan Presalinan

Pengalaman negara-negara yang tekah berhasil mengendalikan AKI memberikan pelajaran tentang 3 hal. Pertama, para penentu kebijakan dan para pengelola sadar betul bahwa ada masalah, dan masalah tersebut dapat diatasi, sehingga diambil keputusan untuk segera bertindak. Kedua, mereka yang memilih strategi yang sederhana saja, yaitu bukan hanya asuhan antenatal, tetapi juga asuhan professional saat dan pascapersalinan untuk semua ibu oleh tenaga kesehatan terampil, dengan didukung oleh pelayanan rumah sakit. Ketiga, mereka yakin bahwa akses pada semua pelayanan ini secara finansial dan geografis tersedia untuk seluruh penduduk.

Mendekatkan Pelayanan yang Aman pada Ibu

Semua kehamilan dan persalinan, bukan hanya yang beresiko, memerlikan pelayanan professional oleh tenaga kesehatan terampil. Konsepnya adalah persalinan yang membutuhkan kedekatan dengan tempat dan cara ibu itu hidup, dekat dengan budayanya. Namun, pada saat yang sama tenaga profesional terampil tersedia dan setiap saat dapat  berbuat sesuatu bilamana terjadi komplokasi. Jenis pelayanan seperti ini diharapkan dapat responsive, terjangkau, dan tenaga kesehatan harus kompeten dalam melaksanakan kegiatananya.

Jika Ada Komplikasi

Sebagian kecil ibu dan bayi baru lahir mengalami masalah yang memerlukan penanganan lebih kompleks. Oleh karena itu itu, perlu rumah sakit back up untuk membantu menangani masalah atau komplikasi yang terjadi. Kriteria pengiriman back up bukan hanya apakah komplikasi itu membahayakan jiwa atau emergensi, tetapi juga kompleksitasnya.

DSC_1251Jangan Lupakan Masa Nifas

Masa nifas masih potensial mengalami komplikasi sehingga  perlu perhatian dari tenaga kesehatan. Kematian ibu masih dapat terjadi pada masa ini karena perdarahan atau sepsis, serta kematian bayi baru lahir. Ibu-ibu pascapersalinan , lebih-lebih yang sosio-ekonomi dan pendidikan kurang, sering tidak mengerti potensi bahaya masa nifas ini. Mereka yang melahirkan di rumah, sering tidak memperoleh pelayanan nifas. Umumnya kita menganjurkan agar ibu memeriksakan diri 6 minggu pasca persalinan, yang sesungguhnya kurang evektif. Lebih-lebih bila pemeriksaan ini dilakukan oleh orang yang berbeda, serta lokasi yang berbeda pula dengan lokasi persalinan. Sering kita lihat angka kunjungan pascapersalinan rendah, tanpa ada upaya memperbaikinya.